SUBUH TERAKHIR DI MESS SWALAYAN

Posted by: admin December 9, 2025

Oleh: Rastono Sumardi

(Puisi esai ini terinspirasi dari peristiwa pembunuhan di Mess Karyawan All Swalayan, Kelurahan Maahas, Luwuk Selatan, Kabupaten Banggai, pada Jumat subuh, 5 Desember 2025, ketika seorang karyawati berinisial AN (25) tewas dianiaya maling yang diduga hendak mencuri, dan pelaku kemudian diamuk massa.)(1)

—000—

Subuh di Luwuk Selatan belum benar-benar terang,

jam di dinding baru menunjuk lima lewat dua puluh.

Di mess karyawan swalayan,

tempat lelah disusun rapi seperti kardus di gudang,

tiba-tiba gaduh menyesak lorong sempit. (2)

Bukan suara tawa sebelum kerja,

bukan dengkur sisa malam,

melainkan keributan yang menampar sunyi

hingga warga terjaga oleh firasat buruk.

AN, dua puluh lima tahun,

perempuan yang tak pernah masuk daftar pahlawan,

hanya karyawati swalayan

yang menggantungkan hidup pada shift dan gaji pas-pasan. (1)

Ia mungkin baru menata mimpi

tentang pulang kampung,

tentang adik yang sekolahnya harus lanjut,

tentang hari libur yang jarang datang.

Tapi subuh itu

tak memberi ruang untuk rencana.

Seorang pria datang

membawa niat mencuri,

lalu niat itu membesar menjadi gelap

ketika ketahuan. (3)

Di kamar sempit itu

ketakutan berubah jadi senjata,

dan tubuh AN

jadi tempat amarah bekerja.

Ada satu lagi, A, dua puluh dua tahun,

rekan kerja yang ikut dihantam

oleh nasib yang tak memilih siapa di dekatnya. (1)

Satu berlari minta pertolongan,

satu terkapar di ranjang

bersimbah darah. (2)

—000—

Kita ini bangsa yang sering bangun

setelah tragedi terjadi,

bukan sebelum tragedi dicegah.

Kapolres menyebutnya

pencurian dengan kekerasan—

kata resmi untuk luka yang tak akan resmi di hati keluarga. (4)

Di kampung kecil,

berita menyebar lebih cepat dari ambulans.

Warga mengejar pelaku

yang lari membawa sisa gelap di tangannya. (1)

Dan ketika pelaku tertangkap,

amarah warga menjadi arus besar:

menghantam tubuhnya,

menggiringnya ke tanah

yang tak lagi sabar menunggu hukum. (3)

Aku mengerti amarah itu.

Duka sering tak punya bahasa lain

selain pukulan.

Tapi aku juga tahu:

kematian tak pernah benar-benar selesai

jika dibalas dengan kematian baru.

Hukum yang lambat

tak seharusnya membuat kita

mengganti palu pengadilan

dengan batu di jalanan.

—000—

Bayangkan ibu AN

yang menunggu telepon pagi,

biasanya berisi,

“Bu, nanti pulang agak siang.”

Tapi kali ini

pagi datang membawa kabar

yang mematikan seluruh jam di rumahnya.

Bayangkan teman-teman AN

membuka swalayan hari itu,

lampu tetap menyala,

rak tetap rapi,

namun lutut mereka gemetar

sebab tempat kerja

ternyata tak selalu tempat aman. (2)

Di negeri yang katanya terus maju,

kadang ruang aman

kalah oleh ruang gelap.

Sebab ada lorong-lorong

yang luput dari perhatian:

mess buruh,

pintu belakang toko,

jam-jam sepi sebelum fajar.

Kita membangun banyak gedung,

tapi sering lupa

membangun keselamatan

bagi manusia yang mengisinya.

—000—

Subuh terakhir AN

bukan semata cerita kriminal.

Ia cermin yang memantulkan

betapa rapuhnya keamanan

bagi pekerja kecil,

betapa tipisnya batas

antara mencari nafkah

dan kehilangan napas.

Dan subuh itu

meninggalkan dua pesan:

Pertama,

tidak ada alasan apa pun

untuk merampas hidup orang lain.

Kedua,

keadilan yang lahir dari amarah

sering kehilangan arah;

yang kita butuhkan

adalah hukum yang hadir cepat,

keselamatan yang nyata,

serta masyarakat yang tak lagi

harus memilih antara takut

atau membalas takut.

Di Luwuk Selatan,

sebuah kursi akan kosong selamanya,

namun semoga

dukanya menjadi lampu

agar subuh di tempat lain

tak lagi berdarah.

CATATAN:

(1) https://www.detik.com/sulsel/hukum-dan-kriminal/d-8245786/karyawati-swalayan-di-banggai-tewas-dianiaya-maling-pelaku-diamuk-massa detikcom

(2) https://banggairaya.id/pembunuhan-di-mess-karyawan-all-swalayan-luwuk-bermotif-pencurian-dengan-kekerasan/ Banggai Raya+2Okenesia+2

(3) https://referensia.id/pembunuhan-di-mes-karyawan-all-swalayan-luwuk-pelaku-tukang-bangunan-berusia-46-tahun/ Referensia+1

(4) https://lintasperkoro.com/baca-11837-seorang-tewas-dalam-kasus-pencurian-di-all-swalayan-banggai lintasperkoro.com 

Tentang Penulis:

Rastono Sumardi, S.Pd., M.E. adalah ASN di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, yang dikenal aktif mendorong transformasi digital pemerintahan sekaligus menghidupkan gerakan literasi dan kebudayaan. Lahir di Banyumas pada 10 Maret 1974, ia kini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (DKISP) Kabupaten Banggai. Di ranah teknologi, Rastono terlibat dalam penguatan layanan publik berbasis aplikasi, serta berbagai agenda Pemerintahan Digital dan Satu Data sebagai fondasi tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, akuntabel, dan transparan.

Di luar birokrasi, Rastono aktif sebagai penulis dan pegiat literasi digital. Ia mengemban amanah sebagai Ketua SATUPENA Sulawesi Tengah dan Ketua Bonua Sastra Banggai. Produktivitasnya terlihat dari beragam karya sastra—puisi, puisi esai, cerpen—serta artikel reflektif yang mengangkat isu sosial, pendidikan, budaya, dan lingkungan. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah media dan kanal literasi, antara lain hatipena.com, suarautara.com, nusantara26.com, bonuasastra.kim.id, dan banggaikreatif.com. Melalui publikasi dan komunitas yang ia bangun, Rastono konsisten merawat ekosistem kepenulisan di Banggai sekaligus memperluas jangkauan literasi ke ruang digital. Di bidang pendidikan, ia juga berperan sebagai Ketua Persatuan Guru NU Kabupaten Banggai.

RELATED POSTS
FOLLOW US