
SANUR, BALI — Ombak Sanur tetap bergerak seperti biasa. Wisatawan berjalan di tepi pantai, matahari Bali menghangatkan pagi, dan kehidupan berlangsung tanpa banyak perubahan.
Di sebuah ruang konferensi Prama Sanur Beach Bali Hotel, 21 Agustus 2026, pembicaraan justru mengarah pada masa depan: bagaimana kecerdasan buatan dapat membantu manusia bekerja dengan lebih aman.
Di panggung itu, Riri Satria kembali tampil sebagai plenary speaker dalam The Annual OSH Asia Summit. Kehadirannya untuk ketiga kalinya berturut-turut memperlihatkan sebuah perjalanan pemikiran yang menarik.
Tahun 2024 dimulai dari transformasi digital.
Riri membahas bagaimana teknologi digital mengubah cara organisasi mengelola Occupational Safety and Health (OSH) dan Health, Safety and Environment (HSE). Dalam sesi khusus, ia mengangkat pemanfaatan Internet of Things (IoT) di lingkungan pelabuhan.
Pelabuhan adalah ruang kerja yang penuh dinamika. Manusia, kendaraan, mesin, alat berat, dan berbagai aktivitas berinteraksi dalam satu ekosistem. Melalui IoT, lingkungan kerja dapat menghasilkan data yang membantu manusia melihat kondisi lapangan dengan lebih cepat.

Pada 2025, perjalanan itu bergerak menuju Artificial Intelligence.
Data yang semakin banyak membutuhkan kemampuan untuk mengolah dan membacanya. AI membuka kemungkinan baru dalam mengenali pola dan menganalisis risiko.
Tetapi pada 2026, pertanyaan yang dibawa Riri menjadi lebih mendasar.
Bukan lagi sekadar, “Apa yang dapat dilakukan AI?”
Melainkan, “Bagaimana AI diintegrasikan ke dalam strategi OSH/HSE?”
Dalam tema “Integrating Artificial Intelligence (AI) to OSH/HSE Strategy”, Riri menggunakan pendekatan Enterprise Architecture. Strategi menjadi titik awal. Proses, data, aplikasi, teknologi, manusia, dan tata kelola kemudian dihubungkan dalam sebuah arsitektur organisasi.
AI hadir setelah kebutuhan dipahami.
Dengan cara pandang tersebut, organisasi tidak terjebak mengejar teknologi hanya karena sedang menjadi tren. Teknologi harus menjawab kebutuhan.
Pengalaman Riri di dunia korporasi, akademik, dan pemerintahan turut membentuk cara pandang itu. Ia merupakan Komisaris Utama PT ILCS Pelindo Solusi Digital, dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan pernah menjadi Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia.
Tiga tahun. Tiga tahapan.
Transformasi digital.
Artificial Intelligence.
Integrasi.
Perjalanan itu sesungguhnya bukan tentang teknologi. Ia tentang manusia. Sebab secanggih apa pun sistem yang dibangun, tujuan akhir OSH/HSE tetap sederhana: mengenali bahaya lebih dini, mencegah kecelakaan, membuat keputusan lebih baik, dan memastikan seseorang yang berangkat bekerja pada pagi hari dapat kembali pulang dengan selamat.
Di situlah AI menemukan maknanya. Bukan ketika mesin menjadi semakin pintar, tetapi ketika kecerdasannya membantu manusia menjadi semakin aman.
(Rissa Churria)
