
Puisi Rissa Churria
Dendam hanyalah abu
yang mengira dirinya api
sedang kasih-Mu
adalah hujan panjang
yang tak pernah memilih bumi
Aku pernah memeluk kehilangan
seolah itulah akhir perjalanan
lalu Kau hadir
menyusui sunyi perih
mengajarkan keikhlasan
Daun gugur tanpa murka
sungai mengalir tanpa mengadili batu
burung terbang meninggalkan ranting
karena langit
lebih luas dari kenangan
Luka tak selalu celaka
Ia adalah mihrab
tempat hati belajar sujud
ketika seluruh pintu dunia
tertutup perlahan
Kupanggil nama-Mu
dengan napas yang tersisa
bukan agar dunia kembali
melainkan agar jiwaku
mengenal asalnya
Rindu yang paling dalam
bukan kepada manusia
Ia adalah jejak ruh
yang terus mencari
Pemilik Cahaya
Kabut bukan penghalang
Ia hanya mengajari mata
percaya pada langkah
ketika penglihatan
tak lagi menjadi penuntun
Embun jatuh
tanpa suara dan tepuk tangan
begitulah rahmat itu
hadir diam-diam
di sela hati yang lungsai
Aku menanggalkan dendam
seperti peziarah
melepas alas kaki
sebelum memasuki
rumah suci
Malam bukan kuburan
Ia rahim yang mengandung fajar
hingga cahaya lahir
dari kesabaran
Aku ingin menjadi debu
di ambang kasih
tak dikenal namun selalu dekat
dengan jejak-Mu
Ajari aku mencintai
tanpa memiliki
merindukan
tanpa menuntut
melepas tanpa membenci
Sebab akhirnya
yang pulang bukan tubuh
melainkan ruh
yang menemukan
Engkau sebagai tujuan
Bekasi, 07.07.2026
dengarkan :
