Ketika Nurani Tergilas Transaksi: Menemukan Kembali Kemanusiaan di Era Digital

Posted by: admin December 25, 2025

Oleh Rastono Sumardi

Ketua Pergunu Kabupaten Banggai – Sulawesi  Tengah

 

Di balik gemerlap layar ponsel yang kita genggam, dunia sebenarnya sedang menyaksikan sebuah “krisis sunyi”. Kita hidup di zaman di mana teknologi berlari begitu kencang, melampaui kemampuan kita untuk beradaptasi secara moral. Tanpa sadar, hubungan antarmanusia yang seharusnya hangat dan organik kini mendingin, berubah menjadi sekadar relasi untung-rugi yang kaku.

 

Matinya Rasa dalam Genggaman

Pernahkah Anda merasa kesepian di tengah keramaian? Data menunjukkan bahwa kapasitas empati mahasiswa menurun drastis hingga 40% sejak tahun 2000-an. Kita lebih sering “hadir” secara digital namun absen secara emosional. Munculnya “aturan bertiga” dalam pergaulan—di mana kita baru berani mengecek ponsel jika ada tiga orang lain yang masih saling bicara—menjadi bukti betapa rapuhnya kehadiran kita sebagai manusia saat ini.

 

Secara biologis, otak kita memiliki “neuron cermin” yang memungkinkan kita merasakan kepedihan orang lain. Namun, karena setiap hari kita dibombardir oleh konten kekerasan, penderitaan, dan kebencian melalui algoritme, nurani kita mengalami kelelahan atau empathy fatigue. Kita menjadi mati rasa. Penderitaan orang lain tidak lagi menyentuh hati, melainkan hanya menjadi tontonan atau bahkan komoditas untuk mencari keuntungan.

 

Literasi: Lebih dari Sekadar Membaca

Krisis ini diperparah oleh runtuhnya literasi kritis. Literasi bukan hanya soal bisa mengeja kata, melainkan kemampuan untuk “membaca dunia” secara mendalam. Tanpa literasi yang humanis, kita hanya akan menjadi “hewan yang pandai”—seperti kata Pramoedya Ananta Toer—individu berpendidikan tinggi namun buta terhadap kemanusiaan.

 

Ketika literasi melemah, kita mudah terjebak dalam ruang gema (echo chambers) yang hanya memperkuat kebencian pada mereka yang berbeda. Kita tidak lagi mencari kebenaran, melainkan hanya kemenangan dalam debat kusir di media sosial1.

 

Uang sebagai “Tuhan Baru”

Masalah paling mendasar adalah pergeseran tujuan hidup kita. Kini, segala sesuatu diukur dengan harga moneter. Aristoteles pernah memperingatkan tentang chrematistiké, yakni seni mencari kekayaan yang tidak alami di mana uang dijadikan tujuan akhir yang tak pernah memuaskan.

 

Dampaknya? Lahirlah birokrasi transaksional di mana jabatan diperjualbelikan seperti barang dagangan. Muncul pula fenomena “ngemis online” di mana kemiskinan dieksploitasi demi gift virtual. Di dunia yang serba transaksional ini, integritas dan kejujuran sering dianggap sebagai beban yang menghambat efisiensi ekonomi.

 

Menjaga Api Harapan

Namun, harapan itu belum padam. Memilih untuk tetap jujur, berempati, dan berpikir kritis di tengah dunia yang egois adalah sebuah “perlawanan radikal”. Kita bisa memulainya dengan:

 

  • Melatih Imajinasi Naratif: Membaca sastra membantu kita masuk ke dalam sepatu orang lain dan merasakan kerentanan yang sama sebagai manusia.

  • Kesadaran Digital: Melakukan digital detoxdan secara kritis memilah konten agar tidak menjadi budak algoritme.

  • Pendidikan yang Memanusiakan: Mengembalikan pendidikan sebagai alat pembebasan, bukan sekadar pabrik tenaga kerja.

Sebagaimana pesan para tokoh bangsa, seperti Mohammad Hatta dan W.S. Rendra, hidup bukanlah soal berapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan seberapa besar kegunaan kita bagi sesama.

 

Dunia hari ini tidak kekurangan teknologi canggih; dunia hanya kekurangan manusia yang mau tetap menjadi manusia. Mari kita jadikan empati dan literasi sebagai senjata untuk menjaga satu hal yang paling berharga: nurani kita sendiri.

 

RELATED POSTS
FOLLOW US