LIPU BABASALAN

Posted by: admin May 13, 2026

Di timur semenanjung

tempat laut memeluk tanjung dengan ombak yang sabar,

lahirlah sebuah negeri

yang dibangun bukan hanya oleh kuasa,

tetapi oleh musyawarah

dan hati yang belajar berbagi arah.

Mandapar berdiri di antara angin dan garam laut,

menjadikan takhta bukan singgasana kesombongan,

melainkan tempat mendengar suara rakyat

yang datang dari gunung, pesisir,

hingga pulau-pulau yang jauh dipeluk cakrawala.

Empat menteri duduk melingkar

di bawah cahaya pelita kerajaan,

membagi amanah seperti membagi air

agar tak ada tanah yang kering

oleh kerakusan kekuasaan.

Sejarah pun berjalan

seperti perahu tua yang tak pernah lelah

mengarungi ombak zaman.

Hingga suatu hari

angin kemerdekaan datang mengetuk gerbang Banggai.

Merah Putih berkibar

di dada mereka yang percaya

bahwa bangsa lebih abadi

daripada mahkota dan gelar kebangsawanan.

Haji Syukuran Aminuddin Amir

menatap kerajaannya dengan mata yang teduh.

Mahkota itu disimpannya perlahan

ke dalam peti kenangan,

lalu diserahkannya negeri ini

kepada masa depan bernama Indonesia.

Luwuk menjadi saksi

ketika sejarah mengganti pakaiannya:

kerajaan berubah menjadi kabupaten,

namun harga diri rakyat

tetap berdiri di tempat yang sama.

Di tanah Babasalan,

Saluan, Balantak, Banggai, dan Andio

mengikat perbedaan menjadi persaudaraan.

Mereka belajar

bahwa darah boleh berbeda warna adat,

tetapi tanah air tetap satu pelukan.

Orang-orang gunung turun membawa hasil bumi,

orang pesisir datang membawa garam dan laut,

lalu bersama-sama

membangun rumah bernama Banggai

dengan gotong royong warisan leluhur.

Di pekarangan sederhana

tangan-tangan rakyat menanam harapan.

Bibit tumbuh bersama doa,

dan kemiskinan perlahan dilawan

oleh keyakinan

bahwa tanah sendiri tak boleh kehilangan kehidupan.

Di hutan Bakiriang yang masih basah oleh embun,

Maleo mengepakkan sayap purbanya.

Burung itu bukan sekadar satwa,

melainkan pesan leluhur

agar manusia tetap menghormati alam.

Malabot Tumbe kembali digelar.

Telur pertama dijemput penuh penghormatan,

dibawa dari Batui menuju Keraton

dengan langkah-langkah adat yang sakral.

Di sana, manusia belajar

bahwa menjaga tradisi

berarti menjaga masa depan.

Kini zaman berubah.

Api biru menyala di Teluk Tomini,

menerangi malam dengan cahaya industri.

Pipa-pipa baja membelah tanah,

membawa gas bumi

menjadi denyut ekonomi baru.

Banggai terus melangkah.

Jalan-jalan dibuka menuju desa terpencil,

bandara diperluas mendekatkan langit,

dan anak-anak di pelosok

mulai berani bermimpi lebih tinggi

daripada bukit tempat mereka dilahirkan.

Lipu Babasalan tetap dijaga

oleh doa para tetua,

oleh kerja keras para petani,

oleh langkah nelayan yang pulang membawa harapan,

dan oleh generasi muda

yang menanam masa depan 

Luwuk, 13 Mei 2026

Karya : Rastono Sumardi

Dengarkan Musikalisasinya, Klik di bawah ini :

LIPU BABASALAN – Banggai Kreatif

RELATED POSTS
FOLLOW US