
Bekasi, 23 Agustus 2026 — Perjalanan ziarah tidak selalu berhenti pada aktivitas religi. Bagi Rumah Baca Ceria (RBC), perjalanan menuju sejumlah situs sejarah dan religi juga dapat menjadi cara untuk membaca kembali sejarah, mengenali budaya, sekaligus menumbuhkan tradisi menulis.
Semangat itulah yang dibawa dalam program tahunan Ziarah Religi dan Budaya, yang kali ini dilaksanakan bersama Majelis Taklim Masjid An-Nur dan Satupena Jawa Barat. Sekitar 110 peserta dari Bekasi dan wilayah sekitarnya mengikuti perjalanan menuju sejumlah situs yang memiliki nilai sejarah dan religi.
Rombongan mengunjungi Makam Raden Arya Wiratanu Darat di Cikundul, Cianjur, Kramat Gunung Jati Cianjur, serta Kramat Empang di Bogor.

Bagi peserta, perjalanan tersebut bukan sekadar kunjungan ke tempat-tempat yang memiliki nilai spiritual. Setiap lokasi menjadi ruang untuk mengenang tokoh dan leluhur, menyimak kisah sejarah, mengamati tradisi masyarakat, serta melakukan refleksi diri.
RBC menempatkan perjalanan sebagai salah satu bentuk literasi berbasis pengalaman. Peserta tidak hanya diajak melihat dan mendokumentasikan perjalanan melalui kamera, tetapi juga mengamati, mendengar, mencatat, kemudian mengolah pengalaman menjadi tulisan.
“Setiap tempat sesungguhnya adalah buku yang terbuka. Kita hanya perlu datang dengan kesediaan untuk membaca. Kita mengamati, mendengar cerita, mencatat, lalu mengolahnya menjadi tulisan,” demikian semangat yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Catatan perjalanan peserta nantinya dapat berkembang menjadi esai, puisi, cerpen, tulisan sejarah populer, maupun dokumentasi budaya.
Kolaborasi RBC, Majelis Taklim Masjid An-Nur, dan Satupena Jawa Barat menunjukkan bahwa gerakan literasi dapat hadir di berbagai ruang. Literasi tidak hanya berlangsung di sekolah, perpustakaan, atau ruang baca, tetapi juga dapat tumbuh dari perjalanan dan perjumpaan langsung dengan sejarah serta masyarakat.
Melalui kegiatan ini, ziarah diharapkan tidak hanya menjadi perjalanan menuju suatu tempat, tetapi juga perjalanan untuk mengenal sejarah, memahami budaya, dan membaca kembali diri sendiri.
Ziarah menjadi ibadah, perjalanan menjadi pembelajaran, sejarah menjadi bacaan, dan pengalaman menjadi tulisan.
(Rissa Churria}
