
Oleh : Rastono Sumardi
Ketua Pergunu Banggai – Sulawesi Tengah
Pendidikan bukan sekadar mentransfer data dari satu kepala ke kepala lain, apalagi sekadar melatih jari agar terampil menyentuh layar. Di tengah hiruk-pikuk teknologi, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kembali ke akar paling fundamental: Untuk apa manusia dididik?
Jawaban atas pertanyaan ini membawa kita pada titik temu antara filsafat dan agama, sekaligus menelanjangi kesalahan fatal yang sedang kita lakukan hari ini.
1. Cita-Cita Pendidikan: Memanusiakan dan Mengilahikan
Jika diperas hingga ke intisarinya, pandangan agama-agama besar dan filsafat klasik (mulai dari Socrates hingga Al-Ghazali) bermuara pada satu tujuan agung yang sama. Pendidikan bukanlah tentang “apa yang bisa kau kerjakan”, melainkan “siapa dirimu sesungguhnya”.
A. Paling Dasar: Memanusiakan Manusia (Humanisasi)
Secara filosofis, manusia lahir sebagai potensi. Pendidikan adalah proses mengubah potensi itu menjadi aktualitas.
- Akal Budi: Cita-cita dasar pendidikan adalah membebaskan manusia dari penjara kebodohan dan insting hewani semata.
- Merdeka Berpikir: Pendidikan harus melahirkan individu yang mampu berpikir mandiri, bukan sekadar membebek pada opini massa.
B. Paling Manusiawi: Adab dan Empati
Puncak dari kemanusiaan bukanlah kecerdasan otak (IQ), melainkan kematangan rasa dan karakter.
- Dalam filsafat moral, orang pintar yang jahat jauh lebih berbahaya daripada orang bodoh yang jahat.
- Cita-cita pendidikan yang paling manusiawi adalah menanamkan empati. Mampu merasakan penderitaan orang lain dan bertindak adil adalah tanda keberhasilan pendidikan yang sejati.
C. Paling Religius: Mengenal Sang Pencipta (Ma’rifatullah)
Agama memandang pendidikan sebagai jalan suci (sacred path). Ilmu tidak boleh berhenti pada benda mati; ilmu harus menuntun pada Penciptanya.
- Tujuan Transendental: Pendidikan bertujuan menyadarkan manusia akan posisinya sebagai hamba dan khalifah (wakil Tuhan) di bumi.
- Penyucian Jiwa: Pendidikan adalah proses membersihkan hati dari kotoran nafsu agar pantas menerima cahaya hikmah (kebijaksanaan).
Kesimpulan Idealitas:
Pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang menghasilkan manusia yang Beradab (tahu tempat dan sopan santun terhadap sesama) dan Berhikmah (memahami hakikat kebenaran Ilahi).
2. Kesalahan Terbesar Pendidikan di Era Digital
Di era modern yang serba digital ini, kita sering terjebak dalam ilusi kemajuan. Kita merasa semakin pintar karena akses informasi yang melimpah, padahal secara substansial, pendidikan kita sedang mengalami krisis makna.
Berikut adalah kesalahan-kesalahan terbesar pendidikan modern:
A. Kekeliruan Antara “Informasi” dan “Pengetahuan”
Ini adalah dosa terbesar era digital. Kita menganggap bahwa mengakses informasi sama dengan memiliki pengetahuan.
- Fakta: Google memberikan informasi, tapi tidak memberikan pemahaman.
- Dampak: Siswa (dan guru) menjadi penimbun data, tetapi miskin analisis dan sintesis. Kita tahu “apa”, tapi lupa “mengapa” dan “bagaimana”.
B. Hilangnya “Ruh” Guru (Dehumanisasi Pengajaran)
Teknologi sering kali menempatkan efisiensi di atas interaksi manusiawi.
- Pendidikan direduksi menjadi penyelesaian modul, kuis online, dan checklist administratif.
- Kesalahannya: Melupakan bahwa transfer karakter dan akhlak hanya bisa terjadi melalui interaksi jiwa ke jiwa, tatap muka, dan keteladanan langsung, bukan melalui layar.
C. Pendewaan “Skill” Teknis, Pengabaian Karakter
Sistem pendidikan modern terlalu terobsesi mencetak “pekerja” untuk industri, bukan mencetak “manusia utuh”.
- Kurikulum dipadati dengan coding, marketing, dan skill teknis.
- Sementara itu, diskusi tentang etika, filsafat, seni, dan spiritualitas dipinggirkan karena dianggap “tidak menghasilkan uang”.
- Hasilnya: Kita melahirkan ahli teknologi yang tidak punya kompas moral—mereka bisa membuat bom nuklir atau algoritma judi online tanpa rasa bersalah sedikitpun.
D. Hilangnya Budaya Kontemplasi (Perenungan)
Algoritma media sosial dan kecepatan internet mendidik otak kita untuk menginginkan segala sesuatu secara instan.
- Pendidikan yang sejati membutuhkan waktu, kesabaran, kesulitan, dan perenungan mendalam (deep thinking).
- Era digital menciptakan generasi yang rentang perhatiannya (attention span) sangat pendek, sehingga tidak tahan menghadapi kerumitan ilmu pengetahuan yang mendalam.
Penutup: Kembali ke Hikmah
Pendidikan modern harus berhenti sejenak dan melakukan kalibrasi ulang. Teknologi adalah alat (tool), bukan tujuan (goal).
Cita-cita pendidikan yang paling dasar, manusiawi, dan religius adalah mencetak manusia yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga halus budinya dan dekat dengan Tuhannya. Tanpa dua hal terakhir itu, pendidikan di era digital hanya akan melahirkan “robot pintar” yang kehilangan jiwanya.(*)
